Selasa, 23 Desember 2008

KISAH TENTANG WORTEL, TELUR, DAN BIJI KOPI

Panaskan 3 buah panci berisi air di atas api.
pada panci pertama, masukkan beberapa buah wortel
pada panci kedua, masukkan beberapa buah telur.
pada panci ketiga, masukkan beberapa biji kopi yang sudah dihaluskan menjadi bubuk kopi.
panaskan ketiga panci tersebut selama 15 menit.

keluarkan isi dari ketiga panci tersebut.
wortel yang sebelumnya keras, sekarang berubah jadi empuk.
telur yang sebelumnya lunak dibagian dalamnya, sekarang menjadi keras.
bubuk kopi sudah menghilang tapi, ir panas sudah berubah warnanya dan mempunyai bau kopi yang sangat harum.

sekarang pikirkan tentang pekerjaan.
pekerjaan itu tidak selamanya mudah.
pekerjaan itu tidak selamanya nyaman
bahkan kadang-kadang pekerjaan menjadi sangat susah

keadaan tidak berubah seperti yang kita inginkan
orang-orang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan
kita bekerja sangat keras, tapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
apa yang yang terjadi pada saat kita kesulitan ?

sekarang pikirkan tentang ketiga panci itu ?
air yang mendidih bagaikan masalah di pekerjaan kita
kita dapat menjadi seperti wortel
kita maju dengan sangat kuat dan tegas
tapi kita keluar dengan lemah dan lunak
kita menjadi sangat lelah
kita kehilangan harapan
kita menyerah.
hilanglah semangat di diri kita.
JANGAN MAU MENJADI WORTEL!!!

kita dapat menjadi seperti telur.
kita memulai dengan hatio yang tulus dan sensitif.
kita berakhir dengan sangat egois dan cuek.
kita membenci orang lain.
kita membenci diri kita sendiri.
tidak ada lagi kehangatan di diri kita.
JANGAN MAU MENJADI TELUR!!!

kita dapat menjadi bubuk kopi.
air tidak menhubah bubuk kopi
bubuk kopi yang mengubah air.
air menjadi berubah karena adanya bubuk kopi
makin panas airnya, makin enak rasanya.

kita dapat menjadi bubuk kopi
kita mambuat sesuatu yang baik dari tantangan yang kita hadapi.
kita belajar hal-hal baru.

kita mempunyai pengetahuan baru, ilmu baru dan skill baru.
kita tumbuh bersama panglaman.
kita mabuat dunia di sekeliling kita menjadi lebih baik.

untuk berhasil, kita harus coba...dan coba lagi
kita harus percaya pada apa yang kita kerjakan.
kita tidak boleh menyerah.
kita harus sabar.
kita harus tetap semangat.

masalah dan kesulitan memberi kesempatan kepasa kita untuk menjadi lebih kuat....dan lebih baik....dan lebih mampu.
JADILAH SEPERTI KOPI!

Senin, 22 Desember 2008

BHP-komersialisasi pendidikan

BHP telah menjadi sebuah undang-undang dan telah disahkan oleh DPR.
ini adalah suatu bukti bahwa DPR sudah tidak memihak kepada rakyat. meskipun ada anggota dewan yang menolak BHP tapi mereka dikala oleh anggota dewan yang di backing oleh kaum kapitalis untuk menggolkan BHP. semoga dengan peristiwa ini, masyarakt akan semakin sadar bahwa DEMOKRASI tidak akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. banyak mahasiswa, orang tua yang menolak BHP tapi suara mereka ridak diakomodasi oleh anggota dewan.

sebenarnya mengapa kita mesti menolak BHP, padahal pemerintah mengatakan bahwa kualitas pendidikan akan semakin baik. bagaiman mungkin bisa baik jika biaya spp atau pembangunan mahal.
BHP adlagh sebuah bentuk komersialisasi pendidikan karena pihak pemilik modal yang menjadi pemegang kendali tentunya akan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya . selain itu kurikulum pendidikan kita akan diarahkan pada pemikiran yang bebas nilai. salah satu contoh pemikiran yang berbahaya adalah SIPILIS (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme). pemikiran semacam ini akan membahayakan bagi generasi karena kakan merusak akidah.

PEMERINTAH LEPAS TANGAN

Alih-alih mengambil tanggung jawab pendidikan yang kurang optimal,
perumus, dan pengambil kebijakan negara justru bermaksud hendak
menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan dengan
mahal. Implikasinya jelas, pendidikan yang baik hanya layak
dinikmati oleh masyarakat yang mampu.

Peranan swasta yang terlembaga dalam badan penyelenggara yang telah
berjasa memikul tanggung jawab negara justru akan dipinggirkan
begitu saja dan hanya diberi ruang terbatas.

Sampai kini pun pemerintah tetap bersikukuh pada argumentasi bahwa
hanya dengan mem-BHP-kan dunia pendidikan, maka pendidikan nasional
akan maju dan mendunia, khususnya perguruan tinggi akan menuju world
class university. Selain itu, BHP akan menjadi kekuatan moral bagi
pembangunan nasional.

Namun, argumentasi ini ditolak mentah-mentah oleh sekelompok
pemerhati dan pakar pendidikan. Kelompok ini, membaca BHP sebagai
bentuk dari liberalisasi dan privatisasi pendidikan. Akibatnya, kaum
marginal kian sulit memperoleh akses pendidikan bermutu.

Selasa, 16 Desember 2008

Dunia Membutuhkan Khilafah

TULISAN INI DIAMBIL DARI SINI

Oleh: Syaikh Ismail al-Wahwah (Hizbut Tahrir Australia)

Dunia ini ditinggali oleh kaum muslim dan non muslim. Fakta keduanya yakni fakta kaum muslim dan non muslim harus dikuasai agar kita bisa memahami sejauh mana kebutuhan akan khilafah.

Kaum muslim membutuhkan khilafah karena mereka membutuhkan ridha dan rahmat dari Allah Swt supaya mereka bisa meraih kemuliaan di dunia dan pahala yang besar di akhirat. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara’ dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan jihad. Khilafah itulah yang akan mendarahdagingkan pemenuhan praktis atas perintah dan seruan hangat dari Allah kepada kaum muslim di dalam al-Quran yang mulia :

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfâl [08]: 24)

Hal itu karena khilafah secara praktis berarti :

- Penegakkan hukum-hukum syara’ di tengah-tengah kaum muslim, sekaligus pencampakan hukum-hukum kufur yang diterapkan atas kaum muslim saat ini.

- Penyebaran Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

- Penyatuan negeri-negeri kaum muslim di dalam lindungan negara yang satu di bawah kepemimpinan seorang Khalifah yang satu pula. Itu artinya berakhirlah perpecahan dan ketercerai-beraian yang sengaja diadakan oleh kaum kafir dan kaki tangan mereka di negeri-negeri kaum muslim. Kaum kafir dan antek-antek mereka itu telah memecah belah negeri-negeri kaum muslim menjadi lebih dari 50 negara kecil tak berdaya. Rencana pemecah-belahan itu dari hari ke hari kian bertambah.

- Pengembalian ikatan ukhuwah islamiyah “seorang muslim adalah saudara muslim yang lain”. Sehingga ikatan ukhuwah itu menjadi satu-satunya ikatan menggantikan ikatan-ikatan jahiliyah baik berupa ikatan patriotisme, nasionalisme, kesukuan dan lainnya yang telah memecah-belah kaum muslim saat ini.

- Kembalinya umat mendapatkan kekuasaannya yang telah dirampas. Umat juga kembali memegang kehendak dan keputusan ditangan mereka sendiri. Ini berarti pembebasan dari penghambaan dan sikap membebek kepada barat kapitalis penjajah di seluruh aspek, politik, budaya, pemikiran, ekonomi, pers media massa dan militer.

- Pembebasan negeri-negeri kaum muslim yang dicaplok seperti Irak, Afganistan, Kashmir, Timor Timur dan yang lain. Sekaligus hal itu merupakan pengusiran terhadap militer asing agressor yang telah menumpahkan darah, menyebabkan kehancuran dan menyemai fitnah di negeri-negeri kita.

- Realisasi jaminan pemenuhan makanan pokok bagi kaum muslim dengan menempuh strategi-strategi yang bertujuan menjamin pencapaian swasembada bahkan lebih, baik dari hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan laut maupun darat.

- Realisasi keamanan industrial melalui strategi politik pembangunan dan pengembangan industri berat untuk memproduksi berbagai peralatan, mesin-mesin pabrik dan persenjataan, sekaligus menghentikan sikap mengekor dan mengemis-ngemis di depan pintu negara-negara barat.

- Pemberdayaan sumber daya umat yang amat besar melalui politik pendidikan yang bertujuan membuka ruang dan kesempatan bagi semua orang supaya mereka menjadi orang-orang yang kreatif dan produktif demi kepentingan agama dan umat mereka. Sehingga berakhirlah masalah akumulasi jumlah pengangguran meski berijazah tinggi.

- Pengembalian kekuasaan umat atas kekayaan-kekayaannya sehingga umat menjadi pemilik murni atas kekayaan-kekayaan itu. Maka terputuslah cengkeraman negara-negara dan berbagai perusahaan barat yang selama ini telah merampok kekayaan umat. Ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memutus rantai kemiskinan sistemik yang sengaja dibuat di negeri-negeri kaum muslim.

- Penyebarluasan kebaikan, keutamaan, keadilan dan penjagaan atas darah, kekayaan, kehormatan dan kemuliaan kaum muslim. Sehingga berikutnya terputuslah siklus fitnah, kerusakan, dan ketidakstabilan yang disemai oleh kafir barat dan antek-anteknya di negeri-negeri kaum muslim.

Itulah sebagian arti berdirinya kembali khilafah. Jika demikian maka betapa besar kerugian yang diderita kaum muslim akibat tiadanya Khilafah!! Juga menunjukkan betapa besar kebutuhan akan kembalinya Khilafah!!

Juga mengisyaratkan betapa besar apa yang diraih oleh kaum kafir penjajah akibat tiadanya Khilafah!! Inilah yang menjelaskan betapa besarnya daya dan kesungguhan yang dicurahkan oleh kaum kafir dan antek-antek mereka untuk menghalangi kembalinya Khilafah.

Akan tetapi, keinginan mereka itu hanyalah ilusi dan fatamorgana. Sebaliknya janji Allah pasti akan terjadi.


Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (TQS an-Nûr [24]: 55)

Sedangkan kebutuhan kaum non muslim di dunia terhadap khilafah :

Sungguh siapapun tidak perlu harus mengerahkan banyak perhatian untuk bisa melihat bahwa umat manusia saat ini tengah berada di dalam penderitaan, kenestapaan dan sedang menghadapi ancaman yang membahayakan masa depan mereka. Hal itu disebabkan oleh dua permasalahan mendasar. Siapa saja yang ingin membebaskan umat manusia dan mewujudkan kebaikan dan keamanan maka kedua masalah itu harus disolusi.

Masalah pertama dan ini merupakan mendasar adalah masalah kekosongan spiritualitas yang telah meliputi umat manusia saat ini. Disamping itu juga tiadanya akidah sahih yang mensolusi permasalahan paling mendasar umat manusia (‘uqdah al-kubrâ) dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari mana? Hendak ke mana? Serta apa tujuan diciptakannya manusia dan segala yang ada? Sehingga manusia dapat mengetahui hakikat dirinya dan hakikat perannya di dalam kehidupan ini.

Kekosongan spiritualitas, lenyapnya akidah sahih dan tiadanya pemahaman akan tujuan dari keberadaan manusia itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari umat manusia saat ini. Anda dapat melihatnya terpampang jelas di depan mata. Yaitu tercermin dalam kesempitan hidup yang dijalani manusia, kelelahan akibat berjalan menuruti naluri-naluri yang tidak akan pernah terpuaskan. Keputusasaan dan keterpurukan itulah yang telah menuntun jutaan manusia di dunia untuk melakukan bunuh diri, pelecehan wanita, penghancuran keluarga, mencampakkan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan spiritual. Dan sebaliknya menjunjungtinggi kepentingan pribadi, individualisme, nilai materi dan nafsu jasadiyah. Hal itu telah menyengsarakan kehidupan berjuta-juta manusia akibat berbagai penyakit yang diperolehnya. Akibatnya, manusia hidup dibawah mimpi buruk dari kebuasan yang bersifat materi ini, maka mereka telah mempersempit diri sendiri dan duniapun menjadi sempit bagi mereka akibat apa yang terjadi.

Hanya Islam melalui Daulah Khilafah Rasyidah yang akan mampu menyelesaikan permasalahan besar itu. Hal itu dilakukan melalui langkah-langkah praktis yang akan dilaksanakan oleh Daulah Khilafah nanti jika Allah menghendaki merealisasikannya untuk kita. Secara ringkas hal itu adalah sebagai berikut :

Pertama, Berdirinya khilafah, satu negara yang berdiri diatas asas akidah Islam dan hukum-hukum syara’; dan keberhasilan dalam mewujudkan masyarakat islami yang aman dan tenteram, maju di segala bidang kehidupan, sains, industri dan konstruksi, dibawah nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan moral. Hal itu merupakan seruan yang sangat berpengaruh kepada umat manusia. Hal itu akan menarik perhatian umat manusia dan mendorongnya untuk memikirkan dan meneladaninya. Jika di tengah kondisi tiada contoh praktis penerapan Islam di tengah kehidupan, ratusan ribu, bahkan jutaan manusia masuk islam, maka kami berani menegaskan dengan pertolongan Allah bahwa manusia akan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong dengan adanya contoh praktis dan hidup atas penerapan Islam di tengah kehidupan.

Kedua, Khilafah dan dengan kahadirannya yang kuat dikancah internasional dan antar bangsa, hal itu akan menjadikan masalah keimanam, akidah, dan nilai-nilai spiritual, moral dan kemanusiaan menjadi masalah yang akan terus menjadi poros di dunia, menyebabkan berlangsungnya diskusi, dialog, pengkajian dan pemikiran. Sampai suasana itu akan meliputi seluruh dunia.

Ketiga, poros politik luar negeri daulah Khilafah adalah mengemban dakwah ke seluruh dunia melalui dakwah dengan segenap sarana dan diserukan dari berbagai sisi; juga melalui jihad dan pembebasan. Maka manusia akan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong tanpa paksaan, setelah mereka melihat kebenaran dan keadilan Islam ketika mereka meminta diputusi dengan hukum-hukum Islam.


Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat. (TQS. An-Nashr [110] 1-3)

Sedangkan masalah besar kedua yang dihadapi oleh dunia saat ini adalah hegemoni kapitalisme barat dan negara-negara kapitalis yang dipimpin oleh Amerika atas kunci-kunci dunia.

Sistem Kapitalisme barat berdiri di atas asas pemisahan agama dari kehidupan dan negara. Itulah yang menjadi akidahnya. Sistem Kapitalisme barat menjadikan aspek manfaat sebagai standar bagi perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakannya. Dalam upaya merealisasi berbagai kepentingan dan hegemoninya, Barat penjajah sama sekali tidak merasa risi untuk melakukan berbagai bentuk kejahatan yang paling sadis terhadap umat manusia dan menempuh strategi yang mengancam masa depan umat manusia.

Barat dalam politiknya sama sekali tidak mengacuhkan nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan moral. Sebaliknya Barat penjajah hanya berpegang kepada nilai materi dan aspek kemanfaatan di jalan penjajahannya. Hal itu telah menyebabkan bencana yang menimpa berbagai bangsa. Hal itu tercermin dalam tindakan agressi (pencaplokan) atas tanah-tanah berbagai bangsa itu, terbunuhnya putera-putera mereka dan mereka berubah menjadi pengungsi atau terusir. Kekayaan mereka dirampok sehingga mereka menjadi peminta-minta yang kelaparan, sementara itu saat yang sama barat justru berpesta dengan kekayaan bangsa-bangsa itu.

Barat, utamanya Amerika tidak mengendorkan upaya menghancurkan sumber daya berbagai bangsa dan umat, menyia-nyiakan sumber daya manusianya, menghalanginya untuk meraih kebangkitan yang menyeluruh serta mengambil sebab-sebab kemajuan. Barat dengan dipimpin Amerika memaksakan politik pendidikan, pertanian, perindustrian terhadap berbagai bangsa dan umat itu dan menjadikan mereka tetap sebagai pengekor barat dan hidup diatas sisa-sisa barat. Disamping barat juga tetap menjadikan mereka hanya sebagai sekumpulan konsumen bagi produk-produknya.

Barat tidak akan mengendorkan pemanfaatan atas lembaga-lembaga internasional –yang pada asalnya mereka dirikan– untuk menjamin kepentingan-kepentingan, hegemoni dan penguasaan Barat terhadap dunia secara menyendiri tanpa pesaing, seperti pemanfaatan lembaga PBB dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya, Bank Dunia, IMF dan Mahkamah Internasional. Sebagaimana Barat tidak akan mengendorkan pemanfaatan apa yang disebut sebagai undang-undang internasional dan tradisi internasional. Hal itu agar Barat bisa merealisasikan kepentingan-kepentingannya dan memaksakan nilai-nilainya. Padahal undang-undang internasional dan tradisi internasional tidak lain adalah undang-undang dan tradisi barat, dan tidak ada urusannya dengan bahagian dunia lainnya.

Barat juga tidak akan mengendorkan upayanya menjadikan umat manusia terus terbelenggu dibawah ancaman persenjataan nuklir yang ditimbunnya dan pecahan-pecahan (limbah) persenjataan nuklir itu serta berbagai efek buruknya. Hal itu saat ini telah menjadi ancaman nyata terhadap masa depan umat manusia melalui polusi lingkungan dan berbagai penyakit yang muncul akibat nuklir.

Barat juga tidak akan mengendorkan upayanya menciptakan berbagai pergolakan dalam negeri dan perang sipil serta menyalakan api sektarianisme, rasisme, dan ashabiyah, bahkan meski hal itu akan menyebabkan terbunuhnya jutaan manusia. Hal itu seperti yang terjadi di Irak saat ini dan di benua Afrika. Hal itu, selama barat mengabdi kepada kepentingan-kepentingan materinya dan kerakusannya yang tidak pernah terpuaskan.

Sebagai tambahan atas semua itu, Barat telah menyerahkan tampuk kepemimpinan mereka kepada orang-orang yang tidak bermoral dan tidak risi untuk berbohong dan berdusta. Mereka menanggalkan spirit kepemimpinan yang luhur. Sampai-sampai arogansi telah menguasai gembong kekufuran Amerika. Presiden Bush menganggap bahwa dirinya adalah Tuhan lain selain Allah. Dia menyeru umat manusia sebagaimana Fir'aun dahulu "sesungguhnya aku adalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi". Bush telah mengisyaratkannya secara arogan "kalian tidak boleh memiliki pendapat kecuali sesuai dengan penapatku". Bush telah memberi pilihan kepada umat manusia saat ini antara bersamanya maka akan mendapat keridhaan dan pemberiannya, atau sebaliknya menentangnya dan akan mendapat bencana berupa bara kemarahan senjatanya.

Menghadapi semua itu, maka dengan penuh keyakinan seorang mukmin, kami katakan bahwa Islam yang terepresentasi di dalam Daulah Khilafah dan para punggawanya akan mampu membebaskan umat manusia dari keburukan kapitalisme dan berbagai kejahatannya serta dari kepemimpinannya yang merusak.

Khilafah akan meruntuhkan asas-asas sistem kapitalisme yang bersifat manfaat dan penjajahan. Disamping Khilafah akan menarik opini umum internasional ke pihaknya. Khilafah juga akan menhancurkan ide-ide penjajahan, perbudakan dan diskriminasi rasial. Sebaliknya Khilafah akan mengobarkan nilai-nilai spiritual, moral dan kemanusiaan di seluruh dunia.

Khilafah akan berupaya menghancurkan negara-negara penjajah, utamanya Amerika, dengan memotong pembuluh-pembuluh darah kapilernya yang diluaskanya menggunakan kekuatan dan tercermin dalam perampasan dan perampokan kekayaan bangsa-bangsa serta penimbunan pasar.

Khilafah akan berupaya mewujudkan asas-asas baru dalam hubungan internasional yang tegak berdasarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai barat. Di dalamnya akan terealisir perkataan Umar bin Khaththab ra. "sejak kapan engkau memperbudak manusia padahal mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka sebagai orang merdeka".

Khilafah tidak akan pernah menjadi anggota PBB dan lembaga-lembaganya serta lembaga-lembaga internasional lainnya. Khilafah akan memobilisasi bahagian dunia lainnya untuk menghancurkan lembaga-lembaga internasional itu. Jika memang harus ada pengaturan internasional, maka hal itu akan berdasarkan asas-asas yang lain di mana di dalamnya terdapat keadilan bagi semua pihak.

Khilafah atas seizin Allah akan menyaingi negara-negara besar untuk mencabut kepemimpinan atas umat manusia dari tangan negara-negara besar itu agar selanjutnya Khilafah memimpin umat manusia kepada keadaan yang paling lurus.

Khilafah akan berupaya menempuh berbagai kebijakan yang mengokohkan nilai-nilai perlindungan atas umat manusia, darah, harta, kehormatan dan kemuliaannya. Khilafah akan menghalangi peperangan yang sia-sia. Sebagaimana Khilafah akan menjaga hak generasi-generasi yang akan datang terhadap lingkungan yang bersih dan nir polusi.

Kepemimpinan umat manusia di dalam Daulah Khilafah akan diserahkan kepada para laki-laki yang hati mereka telah dihidupkan oleh keimanan. Mereka tidak menginginkan kesombongan dan kerusakan di dunia. Mereka mengetahui bahwa kepemimpinan merupakan tanggung jawab dan amanah. Mereka sadar akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di hari kiamat kelak : "


Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya (TQS. ash-Shaffât [37]: 24)

Para laki-laki yang bagi mereka politik merupakan kejujuran, amanah dan kehormatan. Para laki-laki yang sangat memperhatikan manusia dan kemaslahatanmya. Para laki-laki yang akan tetap terjaga ketika manusia tengah tidur lelap. Orang yang kuat diantara manusia akan lemah di hadapan mereka hingga mereka mengambil yang hak dari orang itu. Sebaliknya orang yang lemah diantara manusia akan kuat di hadapan mereka hingga mereka memberikan hak kepada orang itu.

Maka betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan Khilafah Islamiyah. Betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan kepemimpinan seperti ini.

Maha benar Allah yang berfirman :


Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (TQS al-Anbiyâ' [21]: 107)

Selasa, 09 Desember 2008

AKIBAT MENYIA-NYIAKAN WAKTU

Tulisan ini di ambil dari sini
Jika Anda bertanya, “Apakah akibat yang akan terjadi kalau menyia-nyiakan waktu?” Salah satu jawaban yang paling gamblang adalah ayat pertama dan kedua surat Al-’Ashr.
Allah Swt. memulai surat ini dengan bersumpah Wal ‘ashr (Demi masa),?آ untuk?آ membantah?آ anggapan?آ sebagian?آ orang yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada sesuatu yang?آ dinamai?آ masa?آ sial atau masa mujur, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Dan inilah yang berperan di dalam baik atau buruknya akhir suatu pekerjaan, karena masa selalu bersifat netral. Demikian Muhammad ‘Abduh menjelaskan sebab turunnya surat ini.
Allah bersumpah dengan ‘ashr, yang arti harfiahnya adalah “memeras sesuatu?آ sehingga?آ ditemukan?آ hal?آ yang?آ paling tersembunyi padanya,” untuk menyatakan bahwa, “Demi masa, saat manusia mencapai hasil setelah memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi apa pun hasil yang dicapainya itu, kecuali jika ia beriman dan beramal saleh” (dan?آ seterusnya?آ sebagaimana diutarakan pada ayat-ayat selanjutnya).
Kerugian tersebut baru disadari setelah berlalunya masa yang berkepanjangan, yakni paling tidak akan disadari pada waktu ‘ashr kehidupan menjelang hayat terbenam. Bukankah ‘ashr adalah waktu ketika matahari akan terbenam? itu agaknya yang menjadi sebab sehingga Allah mengaitkan kerugian manusia dengan kata ‘ashr untuk menunjuk “waktu?آ secara?آ umum”, sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugianselalu datang kemudian.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam khusr (kerugian).
Kata khusr mempunyai banyak arti, antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, dan sebagainya yang semuanya mengarah kepada makna-makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun. Kata khusr pada ayat di atas berbentuk indefinitif (nakirah), karena ia menggunakan tanwin, sehingga dibaca khusr(in), dan bunyi in itulah yang disebut tanwin. Bentuk indefinitif, atau bunyi in yang ada pada kata tersebut berarti “keragaman dan kebesaran”,?آ sehingga?آ kata khusr harus dipahami sebagai kerugian, kesesatan, atau kecelakaan besar.
Kata fi biasanya diterjemahkan dengan di?آ dalam?آ bahasa indonesia. Jika misalnya Anda berkata, “Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang Anda maksudkan adalah bahwa baju berada di dalam lemari dan uang berada di dalam saku. Yang tercerap dalam benak ketika itu adalah bahwa baju telah diliputi lemari, sehingga keseluruhan bagian-bagiannya telah berada di dalam lemari. Demikian juga uang ada di dalam saku sehingga tidak sedikit pun yang berada di luar.
Itulah juga yang dimaksud dengan ayat di atas, “manusia berada didalam kerugian”. Kerugian adalah wadah dan manusia berada di dalam wadah tersebut. Keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam kerugian total, tidak ada satu sisi pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam. Mengapa demikian?
Untuk menemukan jawabannya kita perlu menoleh kembali kepada ayat pertama, “Demi masa”, dan mencari kaitannya dengan ayat kedua, “Sesungguhnya manusia berada didalam kerugian”.
Masa adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu begitu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah bersabda,
“Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.”
Jika demikian waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak diisi, yang bersangkutan sendiri yang akan merugi. Bahkan jika diisi dengan hal-hal yang negatif, manusia tetap diliputi oleh kerugian. Di sinilah terlihat kaitan antara ayat pertama dan kedua. Dari sini pula ditemukan sekian banyak hadis Nabi Saw. yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin, karena sebagaimana sabda Nabi Saw
Dua nikmat yang sering dan disia-siakan oleh banyak orang: kesehatan dan kesempatan (Diriwayatkan oleh Bukhari melalu Ibnu Abbas r.a.).?آ BAGAIMANA CARA MENGISI WAKTU?Tidak pelak lagi bahwa waktu harus diisi dengan berbagai aktivitas positif. Dalam surat Al-’Ashr disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian dan kecelakaan besar dan beraneka ragam. Yaitu,
yang beriman,
yang beramal saleh,
yang saling berwasiat dengan kebenaran, dan
yang saling berwasiat dengan kesabaran.
Sebenarnya keempat hal ini telah dicakup oleh kata “amal”, namun?آ dirinci sedemikian rupa untuk memperjelas dan menekankan beberapa hal yang boleh jadi sepintas lalu tidak terjangkau oleh kalimat beramal saleh yang disebutkan pada butir (2).
Iman dari segi bahasa bisa diartikan dengan pembenaran. Ada sebagian pakar yang mengartikan iman sebagai pembenaran hati terhadap hal yang didengar oleh telinga. Pembenaran akal saja tidak cukup kata mereka karena yang penting adalah pembenaran hati.
Peringkat iman dan kekuatannya berbeda-beda antara seseorang dengan lainnya, bahkan dapat berbeda antara satu saat dengan saat lainnya pada diri seseorang. Al-iman yazidu wa yanqushu (Iman itu bertambah dan berkurang), demikian bunyi rumusannya. Nah,?آ upaya?آ untuk?آ mempertahankan dan meningkatkan iman merupakan hal yang amat ditekankan. Iman inilah yang amat berpengaruh pada hal diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah Swt.
Dalam surat Al-Furqan ayat 23 Allah menegaskan,?آ Kami menuju kepada amal-amal (baik) mereka (orang-orang tidak percaya), lalu kami menjadikan amal-amal itu (sia-sia bagai) debu yang beterbangan.
Ini disebahkan amal atau pekerjaan tersebut tidak dilandasi oleh iman. Demikianlah bunyi sebuah ayat yang merupakan “undang-undang Ilahi”
Di atas dikatakan bahwa tiga butir yang disebut dalam surat ini pada hakikatnya merupakan bagian dari amal saleh. Namun demikian ketiganya disebut secara eksplisit untuk menyampaikan suatu pesan tertentu. Pesan tersebut antara lain adalah bahwa amal saleh yang tanpa iman tidak akan diterima oleh Allah Swt.
Dapat juga dinyatakan ada dua macam ajaran agama, yaitu pengetahuan dan pengamalan. Iman (akidah) merupakan sisi pengetahuan, sedangkan syariat merupakan sisi pengamalan. Atas dasar inilah ulama memahami makna alladzina amanu (orang yang beriman) dalam ayat ini sebagai “orang-orang yang memiliki pengetahuan?آ tentang?آ kebenaran”. Puncak kebenaran adalah pengetahuan tentang Allah dan ajaran-ajaran?آ agama?آ yang bersumber dari-Nya. Jika demikian, sifat pertama yang dapat menyelamathan seseorang dari kerugian adalah?آ iman?آ atau pengetahuan tentang kebenaran. Hanya saja harus diingat, bahwa dengan iman seseorang baru menyelamatkan seperempat dirinya, padahal ada empat hal yang disebutkan surat Al-’Ashr yang menghindarkan manusia dari kerugian total.
MACAM-MACAM KERJA DAN SYARAT-SYARATNYAHal kedua yang disebutkan dalam surat?آ Al-’Ashr?آ adalah ‘amilush-shalihat (yang melakukan amal-amal saleh). Kata ‘amal (pekerjaan) digunakan oleh Al-Quran?آ untuk?آ menggambarkan perbuatan yang disadari oleh manusia dan jin.
Kiranya menarik untuk mengemukakan pendapat beberapa pakar bahasa yang menyatakan bahwa kata ‘amal dalam Al-Quran tidak semuanya mengandung arti berwujudnya suatu pekerjaan di alam nyata. Niat untuk melakukan sesuatu yang baik kata mereka juga dinamai ‘amal. Rasul Saw. menilai bahwa niat baik seseorang memperoleh ganjaran di sisi Allah, dan inilah maksud surat Al-Zalzalah ayat 7:
Dan barang siapa yang mengamalkan kebajikan walaupun sebesar biji sawi niscaya ia akan mendapatkan (ganjaran)-nya.
Amal manusia yang beraneka ragam itu bersumber dan empat daya yang dimilikinya:
Daya tubuh, yang memungkinkan manusia memiliki antara lain kemampuan dan keterampilan teknis.
Daya akal, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu dan teknologi, serta memahami dan memanfaatkan sunnatullah.
Daya kalbu, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan moral, estetika, etika, serta mampu berkhayal, beriman, dan merasakan kebesaran ilahi.
Daya hidup yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempertahankan hidup, dan menghadapi tantangan.
Keempat daya ini apabila digunakan sesuai petunjuk Ilahi, akan menjadikan amal tersebut sebagai “amal saleh”.
Kata shalih terambil dari akar kata shaluha yang dalam kamus-kamus bahasa Al-Quran dijelaskan?آ maknanya?آ sebagai antonim (lawan) kata fasid (rusak). Dengan demikian kata “saleh” diartikan sebagai tiadanya atau terhentinya kerusakan.
Shalih juga diartikan sebagai bermanfaat dan sesuai. Amal saleh adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak menyebabkan dan mengakibatkan madharrat (kerusakan), atau bila pekerjaan tersebut dilakukan akan diperoleh manfaat dan kesesuaian.
Secara keseluruhan kata shaluha dalam berbagai bentuknya terulang dalam Al-Quran sebanyak 180 kali. Secara umum dapat dikatakan bahwa kata tersebut ada yang dibentuk sehingga membutuhkan objek (transitif), dan ada pula yang?آ tidak membutuhkan objek (intransitif). Bentuk pertama menyangkut aktivitas yang mengenai objek penderita. Bentuk ini memberi kesan?آ bahwa?آ objek?آ tersebut?آ mengandung?آ kerusakan dan ketidaksesuaian sehingga pekerjaan?آ yang?آ dilakukan?آ akan menjadikan objek tadi sesuai atau tidak rusak. Sedangkan bentuk kedua menunjukkan terpenuhinya nilai manfaat dan kesesuaian?آ pekerjaan yang dilakukan. Usaha menghindarkanketidaksesuaian pada sesuatu maupun menyingkirkan madharrat yang ada padanya dinamai ishlah; sedangkan usaha memelihara kesesuaian serta manfaat yang terdapat pada sesuatu dinamai shalah.
Apakah tolok ukur pemenuhan nilai-nilai atau keserasian dan ketidakrusakan itu? Al-Quran tidak menjelaskan, dan para ulama pun?آ berbeda pendapat. Syaikh Muhammad ‘Abduh, misalnya, mendefinisikan amal saleh sebagai, “segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan.”
Apabila seseorang telah mampu melakukan amal saleh yang disertai iman, ia telah memenuhi dua dari empat hal yang harus dipenuhinya untuk membebaskan dirinya dari kerugian total. Namun sekali lagi harus diingat, bahwa menghiasi diri dengan kedua hal di atas baru membebaskan manusia dari setengah kerugian karena ia masih harus melaksanakan dua hal lagi agar benar-benar selamat, beruntung, serta terjauh dari segalakerugian.
Yang ketiga dan keempat adalah Tawashauw bil haq wa tawashauw bish-shabr (saling mewasiati tentang kebenaran dan kesabaran). Agaknya bukan di sini tempatnya kedua hal di atas diuraikan secara rinci. Yang dapat dikemukakan hanyalah bahwa al-haq diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh melalui pencarian ilmu dan ash-shabr adalah ketabahan menghadapi segala sesuatu, serta kemampuan menahan rayuan nafsu demi mencapai yang terbaik.
Surat Al-’Ashr secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengandalkan iman saja, melainkan juga amal salehnya. Bahkan amal saleh dengan iman pun belum cukup, karena masih membutuhkan ilmu. Demikian pula amal saleh dan ilmu saja masih belum memadai, kalau tidak ada iman. Memang ada orang yang merasa cukup puas dengan ketiganya, tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan dapat menjerumuskannya dan ada pula yang merasa jenuh. Karena itu, ia perlu selalu menerima nasihat agar tabah dan sabar, sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman, amal, dan pengetahuannya.
Demikian terlihat bahwa amal atau kerja dalam pandangan Al-Quran bukan sekadar upaya memenuhi kebutuhan makan, minum, atau rekreasi, tetapi kerja beraneka ragam sesuai dengan keragaman daya manusia. Dalam hal ini Rasulullah?آ Saw. mengingatkan:
Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya, ada juga untuk melakukan introspeksi. Kemudian ada juga untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan ada pula yang dikhususkan untuk diri (dan keluarganya) guna memenuhi kebutuhan makan dan minum (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim melalui Abu Dzar Al-Ghifari).
Demikian surat Al-’Ashr mengaitkan waktu dan kerja, serta sekaligus memberi petunjuk bagaimana seharusnya mengisi waktu. Sungguh tepat imam Syafi’i mengomentari surat ini:
Kalaulah manusia memikirkan kandungan surat ini, sesungguhnya cukuplah surat ini (menjadi petunjuk bagi kehidupan mereka).
—————-

LEBARAN IDUL ADHA

bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.
mungkin pribahasa ini cukup menggambarkan keadaan kita sekarang ini, setelah mengerjakan tugas laporan, ujian, dam tugas makalah dari dosen dan asisten, kemarin aku pulang dengan perasaan bahagia berkumpul bersama keluarga untuk berlebaran.

aku pulang dengan melupakan semua permasalahan kampus. saatnya untuk membalas dendam atas kesibukan kampus.

setiap tahun, di rumahku terjadi tragedi pengorbanan seekor sapi sebagai bukti kecintaan hamba kepada tuhannya seperti yang disyariatkan nabi Ibrahim yang dengan penuh kerelaan mengorbankan anaknya Ismail untuk disembelih atas perintah sang pencipta.

alhamdulillah lebaran tahun ini aku berkumpul dengan keluarga meskipun seorang kakak-ku tidah hadir karena berada di daerah yang jauh untuk menepuh pendidikan.